Polling Bulan Ini

Bagaimana pelaksanaan proses akademik di semester genap ini?

Kurang
Cukup Bagus
Sangat Bagus
Tidak Tahu

Lihat Hasil Polling
Download Terbaru
Hubungi Admin
  • Untuk info lebih lanjut, silahkan hubungi admin via WA & Telegram.

    082292396640 @lewikiswanto
  • FONDASI PENDIDIKAN KRISTIANI GEREJA KRISTEN di LUWUK BANGGAI (GKLB)
    Artikel berita - Kategori Umum | Diposting pada : 2019-02-24 -|- 02:34:pm
    Share this article on

    FONDASI PENDIDIKAN KRISTIANI


    GEREJA KRISTEN di LUWUK BANGGAI (GKLB)


    Desry N. Linggamo


    Pendahuluan


    Gereja adalah persekutuan orang percaya yang dipanggil oleh Allah dan diutus untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dunia, ini merupakan hakikat gereja. Gereja juga dikenal sebagai suatu organisme yang senantiasa tumbuh dan berkembang. Gereja sebagai persekutuan sekaligus sebagai suatu organisme pada saat ini merupakan wujud atau hasil perkembangan dari jemaat Kristen mula-mula (Kisah Para Rasul 2:41-47) yang lahir dari sebuah gerakan sosial keagamaan yang dipelopori oleh Yesus.[1] Gereja sebagai organisme yang hidup merupakan karya Roh Kudus yang juga melibatkan peran serta orang-orang percaya.


    Bagian dalam tanggung jawab gereja adalah memberikan pendidik agama Kristen bagi warga gereja. Tujuan pendidikan agama Kristen adalah untuk menuntun orang-orang ke luar menuju ke Kerajaan Allah di dalam Yesus Kristus. Kerajaan Allah tidak hanya menjadi tema utama pemberitaan Kristen yang stagnasi di Gereja mula-mula, tetapi juga telah menjadi yang utama dalam gereja kini. Tujuan pendidikan agama Kristen adalah untuk memampukan orang-orang Kristen, hidup sesuai dengan iman Kristen.


                Pendidikan agama Kristen memiliki tujuan yang jelas, yaitu dapat mengubah kehidupan orang-orang. Tujuan itu menggambarkan bahwa pendidikan agama Kristen bersifat mendidik atau memperkuat diri seseorang dan dapat disebut ministry atau pekabaran Injil ke dalam, karena menuntun orang-orang pada kehidupan yang sesuai dengan kehendak TUHAN, menuju pada Kerajaan Allah, yang dicerminkan lewat perilaku dalam kehidupan sehari-hari, tindakan yang sesuai dengan teladan Kristus sehingga dapat menjadi teladan juga bagi orang lain.


                Iman merupakan dasar dari segala apa yang dilakukan orang-orang Kristen. Dengan iman, orang Kristen diarahkan untuk hidup sesuai kehendak TUHAN. Tetapi yang harus disadari bahwa iman ialah pemberian TUHAN kepada manusia, dan manusia pun harus merespon itu dengan tindakan nyata yang dapat memberi hal positif baik bagi diri sendiri maupun orang lain, agar mengalami pertumbuhan iman yang semakin teguh.


                Pertumbuhan iman, merupakan tujuan pendidikan Kristen. Pendidikan agama Kristen mencapai tujuannya ketika iman orang-orang Kristen bertumbuh dan buah dari iman itu dapat ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang yang percaya kepada-Nya. Dengan demikian pendidikan agama Kristen berhasil menjalankan fungsinya.


                Begitupun dengan Gereja Kristen di Luwuk Banggai sebagai gereja yang lahir dan bertumbuh di tanah Banggai menerapkan pendidikan agama Kristen dalam pertumbuhan dan perkembangannya yang menjadi uraian dari pembahasan makalah ini.


     


     


     


    Sejarah Penginjilan di Tanah Banggai


                Sejarah penginjilan di tanah Banggai berjalan bersamaan dengan pengaruh pemerintah Hindia Belanda yang sejak tahun 1906 telah menguasai tanah Banggai (Luwuk Banggai). Pengalaman pemerintah kolonial Belanda menghadapi beberapa perlawanan yang dikemas sebagai perjuangan Islam -- perang Jawa, perang Minang, perang Aceh -- mendorong pemerintah kolonial untuk mencegah suku-suku kafir di Sulawesi diislamkan. Karena itu gubernur Sulawesi mengundang badan-badan Pekabar Injil untuk menginjili suku-suku kafir di pedalaman itu, daripada mereka diislamkan. Sebelum badan-badan zending mulai bekerja, sejak tahun 1908, Ds. Kijftenbelt dan Pendeta Bantu J. Kelling (1861-1922), mengunjungi daerah-daerah pedalaman, mendirikan sekolah rakyat dengan mendatangkan guru-guru lulusan STOVIL dari Minahasa, Sangir dan Maluku untuk mengajar dan memperkenalkan Injil kepada murid-murid sekolah dan masyarakat. Dalam perkunjungannya, diadakan babtisan masal oleh J. Kelling kepada orang-orang di Lamala dan Balantak. Pembabtisan tersebut diprakarsai oleh Teofilus Lasompoh sebagai kepala desa Mantoh pada waktu itu yang kemudian memberi diri sebagai orang pertama yang dibabtis pada tanggal 21 Januari 1913 (tanggal tesebut dikenal sebagai tanggal masuknya Injil di tanah Banggai).  Kemudian beberapa badan zending seperti NZG mengutus J. Kruyt dan N. Adriani ke Poso. GZB bekerja di Toraja, UZV di Tolaki/Moronene, dan ZCGK di Toraja Mamasa. Indische Kerk menyerahkan pekerjaan kepada NZG yang menyatukannya dengan zending di Poso, yang membentuk GKST pada tahun 1947, dan GKLB pada 27 Januari 1966; setelah sebelumnya pelayanan di Tanah Banggai ditangani oleh GMIM.


     


    Lahirnya GKLB Dan Perkembangannya


                Jemaat-jemaat di wilayah Tanah Banggai diasuh oleh GMIM sebelumnya, namun karena jarak yang cukup jauh mengakibatkan kurang lancarnya komunikasi. Karenanya wilayah pelayanan Luwuk Banggai dialihkan untuk diasuh oleh GKST yang pada waktu itu sudah berdiri sebagai sinode di Sulawesi Tengah.  Pada tahun 1947 wilayah pelayanan Luwuk Banggai diserahkan Indische Kerk menjadi bagian pelayanan Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) dengan Koerselman sebagai Ketua Sinode GKST yang membidangi wilayah Luwuk Banggai (1947-1950). Penekanan pelayanan pada waktu itu diletakan pada bidang pendidikan, pengkaderan dan pelayanan sakramen.


                Pelayanan GKLB meliputi wilayah Banggai Laut dan Banggai Darat dengan 7 (tujuh) klasis yang masing-masing dipimpin oleh ketua klasis; sebagai berikut:



    1. Klasis Luwuk              : J. Wairisal

    2. Klasis Sobol                : R.P. Tamuntuan

    3. Klasis Tongke             : J. Manuhutu

    4. Klasis Banggai            : O.L. Pangeti

    5. Klasis Tomini Bocht   : S. Djapalu

    6. Klasis Belalong           : A. Akumo

    7. Klasis Leme-Leme      : K. Padeatu   


    Dalam perkembangannya, GKST secara serius menggumuli aspirasi Sinode Wilayah Luwuk Banggai untuk berdiri sendiri melalui beberapa persidangan yaitu sidang sinode GKST XVI tahun 1962 di Tentena, sidang sinode GKST XVII tahun 1963 di Gintu. Hingga akhirnya pada sidang sinode XX tahun 1966 di Tentena, secara resmi sinode wilayah Luwuk Banggai dinyatakan berdiri selaku sinode yang berdiri sendiri lepas dari pelayanan GKST dengan nama Gereja Kristen di Luwuk Banggai (GKLB) yang berpusat di Luwuk dengan surat keputusan no. 5 tanggal 21 September 1966.


    Pada  tanggal 27 Januari 1966, di Luwuk diadakan serahterima kepada Pdt. U.Parinsi sebagai ketua sinode GKLB dari Pdt L.D. Mombilia selaku ketua sinode GKST wilayah Luwuk Banggai. Seiring dengan perkembangan kecamatan dan kabupaten Banggai sekaligus perkembangn jemaat-jemaat hasil pekabaran Injil, maka pada tanggal 3 Pebruari 2000 dilaksanakan sidang sinode khusus (SSK) bertempat di jemaat Efata Bulagi yang memutuskan secara resmi pemekaran sinode Banggai Kepulauan dengan Pdt. Ruben Matade sebagai ketua sinode Gereja Protestan Indonesia Banggai Kepulauan (GPIBK). Pada waktu itu ditunjuk 3 (tiga) orang yaitu Pdt. D. Haurissa Kani, S.Th, Pdt. J. Labotano, S.Th dan Pdt. R. Matade, untuk mengurus secara hukum Akte Notaris pembentukan sinode baru tersebut.


    Hingga saat ini (2016) GKLB memiliki 15 (limabelas klasis): Klasis Balantak, Mantok Lamala, Tompotika Lamala, Luwuk Timur, Luwuk Utara, Luwuk Barat, Batui, Toili, Toili Barat, Pagimana, Lobu, Bualemo, Bunta, Pancaran Kasih dan Nuhon. Jemaat dewasa berjumlah 125 jemaat, 20 Jemaat persiapan, 22 jemaat Binaan dan 4 Pos PI. Jumlah tenaga pelayan (PO aktif) adalah 112 orang.


    Pokok-Pokok Ajaran GKLB


                Gereja Kristen di Luwuk Banggai menurut Tata Gerejanya adalah persekutuan jemaat Kristen di Kabupaten Banggai yang berkedudukan di Luwuk dengan sistem organisasi Presbiterial Sinodal. Merupakan bagian dari gereja yang esa, kudus, am dan rasuli; terpanggil untuk bersekutu, bersaksi dan melayani di tanah Banggai khususnya, Indonesia umumnya bahkan seluruh dunia. Pelayanan GKLB bersumber dari amanat dan teladan Yesus Kristus Kepala Gereja berdasarkan Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Pengembangan pelayanan dilakukan dengan mengelolah anugerah dan karunia Tuhan dalam segala bentuk sumber daya dan alam.


                GKLB mengaku Allah itu Esa yang menyatakan diriNya dalam Allah Bapa, Allah Anak dan Roh Kudus. Mengakui Yesus Kristus sebagai kepala Gereja, menerima pengakuan iman Gereja pada segala abad dan tempat yang terangkum dalam Pengakuan Iman Rasuli, Nicea Konstantinopel dan Athanasius. GKLB menerima pemahaman Bersama Iman Kristen di Indonesia (PBIK-PGI) dan mengakui dua sakramen yaitu babtisan kudus yang berlaku sekali untuk selama-lamanya dan perjamuan kudus. Dalam statusnya sebagai bagian dari Negara, GKLB mengaku pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan RI.


    Struktur GKLB


                Secara sruktural GKLB dalam menjalankan organisasinya terdiri dari Sinode, Klasis dan Jemaat.


    Gereja Kristen di Luwuk Banggai adalah dari persekutuan jemaat. Yang dimaksud dengan jemaat adalah persekutuan pribadi-pribadi umat Kristen yang bersekutu; struktural (Majelis Pekerja Harian Jemaat; MPHJ, Majelis Pekerja Harian Klasis; MPHK dan Majelis Pekerja Harian Sinode; MPHS) maupun secara fungsional (Pendeta, Penatua, Diaken, Penginjil dan Guru Agama).


    Pelayanan GKLB juga dilakukan secara kategorial yang terdiri dari kategori Bapak, Ibu, Pemuda, Remaja dan Anak. Di samping itu GKLB memiliki Majelis Pertimbangan (MP) yang bertugas memberikan pertimbangan kepada pemimpin Gereja dan juga Majelis Pengawas Perbendaharaan (MPP) dengan tugas melaksanakan pengawasan terhadap pengelolaan perbendaharaan.


                Untuk struktur dan mekanisme organisasi, dapat dilihat dan dipelajari pada Tata Gereja GKLB. 


    TATA DASAR


    BAB I


    NAMA DAN KEDUDUKAN


     


    Pasal  1


    N  A  M  A


    Persekutuan Jemaat Kristen di Kabupaten Banggai diberi nama Gereja Kristen di Luwuk Banggai, disingkat GKLB.


    Pasal  2


    KEDUDUKAN


    Pusat Sinode Gereja Kristen di Luwuk Banggai berkedudukan di Luwuk, ibu kota Kabupaten Banggai.


    BAB  II


    STATUS, BENTUK DAN STRUKTUR 


    Pasal  3


    S T A T U S



    1. Gereja Kristen di Luwuk Banggai adalah bagian dari Gereja Protestan di Indonesia (GPI). Status Hukum berada dalam satu badan hukum GPI dengan nomor 28,  Tahun 1974; dan Staatblaad nomor 19, Tanggal 15 Mei 1927.

    2. Gereja Kristen di Luwuk Banggai dalam melaksanakan panggilan dan fungsinya adalah Gereja Bagian Mandiri  dari Gereja Protestan di Indonesia dan bagian yang integral dari Gereja Yang Esa.


     


    Pasal  4


    Gereja Kristen di Luwuk Banggai dalam menata organisasi pelayanan menganut bentuk Presbiterial-Sinodal yang menekankan hubungan  Jemaat dan Sinode dengan menempatkan Klasis sebagai lembaga struktural, yang merupakan wujud kehadiran Sinode di wilayah.


     


    Pasal  5


    STRUKTUR


    Jenjang organisasi Gereja Kristen di Luwuk Banggai terdiri dari Jemaat, Klasis dan Sinode.


    BAB  III


    PANGGILAN DAN PENGAKUAN


    Pasal  6


    PANGGILAN GEREJA



    1. Gereja Kristen di Luwuk Banggai bersumber dari amanat dan keteladanan Yesus Kristus Kepala Gereja berdasarkan  Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru)

    2. Gereja Kristen di Luwuk Banggai terpanggil untuk melaksanakan Persekutuan, Kesaksian, dan Pelayanan.

    3. Untuk memenuhi amanat tugas panggilan gereja pada ayat 2 di atas, Gereja Kristen di Luwuk Banggai terpanggil untuk mengelola Anugerah dan Karunia Tuhan dalam segala bentuk sumber daya manusia dan alam.


     


    Pasal  7


    PENGAKUAN GEREJA


    1.   Gereja Kristen di Luwuk Banggai mengaku Allah itu Esa, yang menyatakan diriNya dalam nama Allah Bapa, Allah Anak, dan Roh Kudus.


    2.   Gereja Kristen di Luwuk Banggai sesuai panggilannya mengaku bahwa Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja.


    3.   Gereja Kristen di Luwuk Banggai menerima Pengakuan Iman Gereja pada segala abad dan tempat yang terangkum dalam pengakuan Iman Rasuli, Nicea Konstantinopel dan Athanasius.


    4.   Gereja Kristen di Luwuk Banggai menerima Pemahaman Bersama Iman Kristen  di Indonesia (PBIK – PGI).


    5.   Gereja Kristen di Luwuk Banggai mengakui 2 (dua) Sakramen yaitu, Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus.


     


    BAB  IV


    DASAR BERGEREJA DAN DASAR BERNEGARA


    Pasal  8


    DASAR BERGEREJA


    Gereja Kristen di Luwuk Banggai dalam  Panggilannya, mengaku bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya dasar Gereja sesuai kesaksian Alkitab


     


     


    TATA LAKSANA I


    Pasal 39


    KATEKISASI



    1. Katekisasi adalah upaya gereja untuk memberikan pengajaran pokok-pokok iman Kristen yang bertujuan memperlengkapi anggota jemaat menjadi anggota sidi yang memahami dan melaksanakan tugas panggilan gereja dalam kehidupannya sehari-hari.

    2. Katekisasi diberikan kepada anggota jemaat yang telah dibaptis dan berumur 16 tahun ke atas.

    3. Katekisasi dilaksanakan oleh salah seorang Majelis Jemaat atau Pendeta yang ditetapkan untuk itu.

    4. Katekisasi dilaksanakan minimal 3 bulan dengan pemberian pelajaran minimal 1 kali se-minggu.

    5. Bahan pengajaran katekisasi menggunakan buku pedoman katekisasi yang telah ditetapkan oleh MPH Sinode GKLB.

    6. Sebelum pelaksanaan peneguhan sidi perlu dilakukan persiapan dan pembekalan oleh MPH Jemaat.


     


    Fondasi Pendidikan Kristiani GKLB


    Gereja Kristen di Luwuk Banggai merupakan bagian dari gereja Calvinis di Indonesia. Dimana hakekat gereja adalah persekutuan orang-orang yang telah diselamatkan di dalam Yesus telah dibenarkan kendati tetap merupakan manusia berdosa, yang kesemuanya disambut dan diterima manusia melalui iman. Gereja adalah tempat yang bisa ditemukan dimana saja, asalkan di sana Firman atau injil yang murni diberitakan dan sakramen yang murni dilayankan (Baptisan dan Perjamuan Kudus). Menurut Calvin, di dalam gereja ada empat jabatan, yakni: gembala/pendeta, pengajar, penatua, dan syamas/diaken. Khusus mengenai “pengajar”, jabatan ini mencakup semua fungsionaris gereja yang terlibat dalam tugas pengajaran yang berhubungan


    dengan iman kristiani, mulai dari guru agama (di sekolah), guru katekisasi, sampai dengan dosen-dosen teologi. Jadi pendidikan kristiani GKLB adalah melalui katekisasi.


    Katekisasi adalah salah satu wadah, dimana gereja mempersiapkan jemaat untuk memiliki pemahaman yang benar tentang kebenaran Alkitab. Klauber mengutip John Leight sejarahwan reformasi yang menuliskan “Katekisasi tidak hanya semata-mata mempersiapkan orang muda untuk pembaptisan, tapi kepada semua orang percaya, untuk mengajar mereka dasar-dasar iman kristen. Di dalam katekisasi ini, jemaat diperlengkapi dengan doktrin-doktrin dasar di dalam kekristenan yang dipercayai dan diimani oleh gereja tersebut. Selain itu katekisasi merupakan wadah untuk mencari generasi-generasi baru yang dapat diarahkan dan dipersiapkan untuk melayani Tuhan di dalam pelayanan gerejawi.


    GKLB memakai buku sumber katekisasi Pedoman Katekisasi Pra-Sidi “Bertumbuh dan Melayani Bersama”. Buku ini dimaksudkan sebagai buku pelajaran katekisasi pra-sidi bagi katekisan. Bahan dan materi buku ini merupakan kompilasi dari bahan-bahan lokakarya “materi katekisasi” yang dipersiapkan oleh Ketua Sinode Am se-Sulutenggo dan Komisi PWG (Pembinaan Warga Gereja) GKLB dari berbagai sumber. Oleh Komisi PWG bersama team penulis, semua materi hasil lokakarya tersebut kemudian dikembangkan dan dikontekstualisasikan untuk konteks GKLB.


    Pentingnya pengajaran katekisasi oleh gereja (GKLB) kepada jemaat lebih disebabkan karena alasan:


    1. Gereja harus melaksanakan Amanat Agung Yesus Kristus untuk menjadikan bangsa-bangsa murid-Nya (bnd.Mat. 28 : 19) melalui proses pengajaran.


    2. Gereja harus mengajarkan kebenaran-Nya kepada jemaat, sama seperti Yesus Kristus yang mengajarkan firman dan kebenaran-Nya (bnd. Yoh. 8 : 31 – 32).


    3. Gereja harus menuntun jemaat kepada iman dan pengenalan akan Allah yang benar dan Yesus Kristus (bnd. Yoh. 17 : 3; Rm. 10 : 17).


     


     


     


    Tujuan Gereja Melaksanakan Katekisasi



    1. Mempersiapkan dan memperlengkapi warganya dengan segala pengetahuan intelektual dan spiritual untuk siap-pakai serta untuk berperan serta (proaktif, berpartisipasi) melaksanakan pekerjaan Allah sebagaimana tampak dalam karya Yesus Kristus (Ef. 4 : 12).

    2. Membentuk dan membangun kepribadian dan karakter manusia pembangun yang memiliki visi Yesus Kristus serta siap sedia melaksanakan pembangunan gereja (fisik dan non-fisik) selaku Keluarga Allah melalui pekerjaan pelayanan (Ef. 4: 12b).

    3. Memelihara dan merawat pertumbuhan iman warganya supaya berkembang dan berbuah (proses pendewasaan/ kematangan pribadi). Diharapkan melalui katekisasi ini seluruh anggota gereja dapat memiliki pemahaman iman yang sama menuju “tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Ef. 4:13).

    4. Menguatkan pemahaman iman, sehingga seluruh anggota tidak akan mudah terombang - ambingkan oleh ajaran-ajaran sesat tetapi berpegang kepada kebenaran Allah, saling mengasihi, serta tidak terpengaruh semangat duniawi, lalu meninggalkan pengakuan iman kepada Allah di dalam nama Yesus Kristus (bnd. Ef. 4 : 14).

    5. Memberdayakan karunia-karunia yang dianugerahkan Roh Allah kepada warganya (bnd. Ef. 4 : 16)

    6. Menyelenggarakan kehidupan persekutuan melalui karya pelayanan – kesaksian secara tertib dan teratur (I Kor.14 : 40), supaya membawa damai sejahtera (I Kor.14 : 33). Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera (bnd. Yoh.14 : 27).


     


     


    Kesimpulan


    Gereja yang sehat dan dinamis adalah gereja yang memperhatikan aspek pengajarannya. Pengajaran Alkitab yang benar menjadi fondasi yang kuat bagi pelayanan gereja dan pertumbuhan kerohanian jemaat. Jemaat harus didorong untuk mengikuti kelas-kelas katekisasi dan pembinaan-pembinaan lainnya. Mereka yang terlibat pelayanan harus mengerti dasar-dasar kehidupan iman yang benar melalui pengajaran katekisasi, tujuannya adalah:



    1. Agar pelayanannya murni hanya kepada Tuhan (dengan kata lain tidak ikut-ikutan)

    2. Agar bertumbuh di dalam iman

    3. Agar tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai pengajaran duniawi yang menyesatkan

    4. Agar mampu memberi jawaban bagi mereka yang meminta pertanggungjawaban imannya sesuai dengan kebenaran di dalam Kristus.


     


     


     


     


     


     


     


     


     


    Sumber Pustaka:


    Tata Gereja GKLB tahun 2013


    Makalah Pdt. Z. Tolombot; Sekelumit gambaran tentang masuknya Injil di GKLB


    Makalah Pdt. B. Tinjabate, M.Th; Pelayan GKST di Luwuk Banggai periode 1947-1966


    Naskah sambutan Z.Ngelow; perayaan 100 tahun GKLB, 2013.


    Soleiman Yusak, Sejarah Gereja Protestan Di Indonesia 2, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015.


    Gerd Theissen, Gerakan Yesus, Sebuah Pemahaman Sosiologis Tentang Jemaat Kristen Perdana, Ledalero, Maumere, 2005, hlm. 1-2.


    Soedarmono, Kamus Istilah Teologi, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007.


    Harun Hadiwijono, Iman Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007.


    Pedoman Katekisasi Pra-Sidi “Bertumbuh dan Melayani Bersama”, Team Penulis Katekisasi GKLB, Luwuk: 2015.


     


     







    [1]  Gerd Theissen, Gerakan Yesus, Sebuah Pemahaman Sosiologis Tentang Jemaat Kristen Perdana, Ledalero, Maumere, 2005, hlm. 1-2.


     



    Agenda Terbaru
    Statistik Pengunjung
  • Dikunjungi oleh : 24492 user
  • IP address : 54.236.246.85
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
  • Link Terkait
    Berita Akademik

    Kegiatan Seminar Nasional Persekutuan Sekolah - Sekolah Tinggi Setia Arastamar Indonesia (PRESTASI )

    2017-05-04 - 02:50:pm | Kategori Akademik | oleh admin

     Seminar Nasional  yang diselenggarakan oleh Persekutuan Sekolah - Sekolah Tinggi Setia Arastamar Indonesia (PRESTASI )  b.....Baca Selanjutnya

    Sekilas Pemimpin Tradisional Rante Balla

    2015-09-22 - 12:05:pm | Kategori Akademik | oleh direktur
    1. 1.      Asal-usul kepemimpinan tradisional dalam masyarakat Rante Balla<.....Baca Selanjutnya
    Renungan

    Sukacita Dalam Penderitaan Membuahkan Kebaikan

    2019-01-28 - 01:50:am | Kategori Harian | oleh admin

    Pendahuluan

    1. A.    Latar Belakang

    Kitab Kisah.....Baca Selanjutnya

    Materi E-Learning
    Sekolah Tinggi Teologia (STT) STAR'S LUB
    Jl. Sungai Bunta Nomor 4. Kel. Keleke Kec. Luwuk Kab.Banggai, Prov. Sulawei Tengah
    Telp: 085241359597 email : purnama.pasande@gmail.com, sttstarslub.luwuk@gmail.com