Polling Bulan Ini

Bagaimana pelaksanaan proses akademik di semester genap ini?

Kurang
Cukup Bagus
Sangat Bagus
Tidak Tahu

Lihat Hasil Polling
Download Terbaru
Hubungi Admin
  • Untuk info lebih lanjut, silahkan hubungi admin via WA & Telegram.

    082292396640 @lewikiswanto
  • Sukacita Dalam Penderitaan Membuahkan Kebaikan
    Artikel renungan - Kategori Harian | Diposting pada : 2019-01-28 -|- 01:50:am
    Share this article on

    Pendahuluan



    1. A.    Latar Belakang


    Kitab Kisah Parah Rasul merupakan sebuah kitab yang sangat unik. Keunikan dari kitab ini terletak pada muatan yang terkandung di dalamnya, yang mengisahkan tentang kehidupan atau keberadaan umat Tuhan pasca kematian Yesus. Kehidupan kekristenan benar – benar  mengalami perkembangan yang sangat cepat (Kis. 2:41,47; 4:32; 6:7, dll)    dan bahkan militansi memberitakan Injil yang dimiliki oleh rasul-rasul pada waktu itu sangat besar.


    Secara terstruktur Lembaga Alkitab Indonesia membagi Kitab Kisah Para Rasul 15:35 sampai pada pasal 16:1-40 dalam beberapa poin besar, yakni:



    • Pasal 15:35-41 membahas tentang kronologi terjadinya perselisihan atau bisa dikatakan silang pendapat antara Paulus dan Barnabas;

    • Pasal 16: 1-3 tentang keterpanggilan Timotius mengikut Paulus dalam pelayanan;

    • Pasal 16:4-18 tentang lanjutan perjalan Paulus dan Sila ke beberapa tempat;

    • Pasal 16:19-40 tentang peristiwa spektakuler yang dikerjakan Roh Kudus di dalam penjara.


    Kisah yang paling menarik dalam bagian ini terdapat di dalam peristiwa bertobatnya kepala penjara Filipi.  Namun meski demikian, hal ini tidak berarti bahwa beberapa poin besar pra–pertobatan Kepala penjara Filipi ini tidak menarik atau bahkan tidak perlu mendapat bagian dalam sebuah pembahasan, sebab haruslah menjadi sadar kita bahwa poin-poin besar yang dimuat di dalam Kisah Para Rasul 15:35 – 16:1-40 adalah merupakan satu kesatuan kronologi yang tidak bisa dipisahkan.


    Maka dengan demikian, rentetan peristiwa yang ada di dalam Kis. 15:35 – 16:1-40 akan dibahas secara bersamaaan dalam rangka menemukan maksud utama dalam perikop ini.


     



    1. B.     Penulis


    Kitab Kisah Para Rasul oleh kesaksian kekristenan mula-mula menjelaskan bahwa kitab ini hasil karya seorang tabib yang tidak lain adalah Lukas sendiri seorang penulis Injil Lukas. Meskipun dalam kitab ini tidak dengan terang-terangan menjelskan tentang data pribadi penulisnya, namun melalui bukti-bukti interen kita bisa memastikan bahwa benar-benar kitab ini adalah hasil karya dari Lukas, diantaranya: (i) Alamat dari kedua tulisan ini antara Kisah Para Rasul dan Injil Lukas sama-sama ditujukan kepada Teofilus sebagaimana yang dicatat dalam Luk. 1:1; Kis. 1:1, (ii) Lukas sendiri dalam bagian ini memberi kesaksian bahwa ia sudah pernah menuliskan sebuah buku yang di dalamnya memuat tentang segala hal mengenai apa yang dikerjakan dan diajarkan oleh Yesus Kis. 1:1 dan tulisan itu secara jelas menunjuk kepada Injil Lukas, (iii) Dalam beberapa tata bahasa yang digunakan di dalam Kitab Kisah Para Rasul ini Nampak memiliki kesamaan dengan apa yang dimuat di dalam Injil Lukas.


    Berdasarkan bukti-bukti di atas, maka pribadi yang disebut-sebut sebagai penulis dari dua tulisan (Injil Lukas dan Kisah Para Rasul) tidak bisa diragukan lagi bahwa Lukas seorang tabib adalah penulisnya.



    1. C.    Tahun Penulisan


    Berita selanjutnya yang dapat kita ambil dari kitab ini adalah berkaitan dengan waktu penulisan. Beberapa sumber memberi keterangan bahwa kitab Kisah Para Rasul ditulis sekitar tahun 100 M. Pendapat ini dikemukakan oleh kaum Tubingen yang dipimpin oleh F.C. Baur dan selanjutnya dipertahankan kembali oleh Prof. John Knox pada belakangan tahun terakhir. Meski demikian, beberapa ahli yang lain masih memiliki pandangan yang lain mengenai waktu penulisan kitab ini. Misalnya, F.F. Bruce dan J.A.T. Robinson berpandangan bahwa penulisan kitab Kisah Para Rasul berkisar sekitar tahun 62 – 64 M, akan tetapi tahun penulisan ini dipandang masih terlalu dini.


    Masih berkaitan dengan waktu penulisan, pendapat lain mengatakan bahwa baik penulisan yang lebih kemudian maupun penulisan yang terlalu dini, keduanya tidak dapat dibenarkan. Pandangan lain berpendapat bahwa waktu penulisan kitab Kisah Para Rasul diperkirakan ditulis sekitar tahun 80 – 85 M. Argumen ini didasarkan pada dua alasan, yaitu: (i) kitab Kisah Parah Rasul ditulis dengan kalimat pembuka “Dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus” Kis. 1:1. Sedikit menarik pandangan ke belakang bahwa tulisan atau kitab pertama yang ditulis oleh Lukas adalah Injil Lukas dan ketika Injil lukas ini ditulis, penulis banyak mengambil data – data dari Injil Markus yang secara kronologi ditulis sebelum Injil Lukas. Oleh karena disinyalir bahwa Injil Markus ditulis sekitar tahun 60 – 65 M, maka hal yang tidak mungkin Injil Lukas ditulis jauh sebelum tahun 65 – 70 M. Dengan demikian hal ini berarti bahwa Kitab Kisah Para Rasul yang adalah jilid ke dua dari tulisan Lukas tidak mungkin ditulis pada tahun 62 – 64 M. (ii) alasan yang ke dua ini didasarkan pada sebuah keyakinan bahwa tulisan Lukas sering dipandang merupakan salah satu tulisan yang menunjukan sikap dan kepercayaan yang umum pada zaman sesudah para rasul. Injil Lukas dan kitab Kisah Para Rasul bagi para ahli teologi sering dipandang sebagai “kekatolikan mula – mula”. Lukas sebagai penulis dari Kitab Kisah Para Rasul dan Injil Lukas dipandang sebagai sosok pribadi yang memiliki pandangan yang distinktif, misalkan saja: kalau kita hanya membaca bagian yang ada di dalam tulisannya yang ke dua yaitu Kitab Kisah Para Rasul, maka kita akan mendapat kesan bahwa jemaat mula-mula berada pada keadaan yang nyaman atau keadaan tanpa kontroversi, akan tetapi kalau kita memperhatikan secara saksama beberapa pernyataan Paulus pada masa berkembangnya jemaat mula-mula, kita akan menemukan bahwa ternyata di sana juga terjadi perselisihan-perselisihan. Tentu dalam hal ini Lukas memiliki alasan, jelasnya bahwa Lukas ingin menekankan bahwa ada persetujuan dasariah di antara semua golongan jemaat mula-mula, dan dalam hal ini pula Paulus menerima prinsip seperti itu. Dengan demikian gambaran singkat yang kita temui dari alasan yang kedua ini bahwa memang Lukas menulis Kitab Kisah Para Rasul itu setelah masa para Rasul. Jadi tahun penulisan kitab Kisah Para Rasul yang dipandang lebih autentik adalah tahun delapan puluan, yakni sekitar tahun 85 M.


     



    1. D.    Isi (Kisah Para Rasul 15:35 – 16:1-40)

      1. 1.    Kesungguhan Melayani Tuhan



    Pada bagian pendahuluan, telah dijelaskan bahwa pokok utama yang paling menarik dalam bagian ini adalah kisah bertobatnya kepala penjara Filipi bersama keluargannya. Akan tetapi sebelum peristiwa itu terjadi, kita memperhatikan bahwa ada satu keadaan yang secara terang-terangan dijelaskan oleh Lukas bahwa terjadi sebuah perselisihan atau silang pendapat antara Paulus dan Barnabas (Kis. 15:37-39).


    Kondisi ini nampaknya sangat tidak baik. Perselisihan dari kedua pihak ini yang disebut-sebut sebagai rasul Yesus Kristus sepertinya tidak harus terjadi. Bagaimanapun situasinya para pelayan Tuhan harusnya bisa saling menerima dan bersikap lapang dada, serta bersedia memberikan pengampunan atas kesalahan orang lain (Mat. 6:12,14-15; Mrk. 11:25-26; Ef. 4:32; 2 Kor. 2: 5-10). Akan tetapi dalam peristiwa ini kita melihat bagaimana Paulus benar-benar menjunjung tinggi suatu sikap hati yang tidak main-main dalam melayani Tuhan. Tanggung jawab melayani Tuhan bukanlah sebuah hal yang bisa dilakukan dengan sesuka hati, sehingga tatkala ia (Paulus) berhadapan dengan orang yang seperti itu, maka ia sangat tegas untuk tidak mengikutsertakannya dalam sebuah pelayanan.


    Dalam hal ini, ada hal penting yang menjadi perhatian kia bersama bahwa perkara “Melayani Tuhan” harusnya dikerjakan dengan sunggguh-sungguh. Sikap hati yang sungguh-sungguh melayani Tuhan akan menjadi sebuah pondasi atau dasar yang kuat dalam melaksanakan pekerjaan Tuhan. Kita memang sadar bahwa melayani Tuhan bukanlah perkara yang mudah. Hal-hal duniawi yang begitu mengikat harus siap dilepaskan, hal-hal duniawi yang begitu merintangi kita, harus siap dihadapi, kepentingan pribadi serta kelompok harus dilepaskan (2Tim. 2:1-13) sehinggga benar-benar kita dapat melaksanakan  pekerjaan pelayanan Tuhan dengan sungguh-sunggguh.



    1. 2.    Kesediaan Melayani Tuhan (Kis. 16:1-3)


    Kisah Para Rasul pasal 16 bagian pertama (1-3), membahas mengenai keikutsertaan Timotius dengan Paulus dan Silas dalam pelayanan. Tentu sebenarnya Timotius punya alasan untuk menolak atau menunda untuk ikut bersama dengan Paulus dan Silas di dalam pelayanan itu. Kemungkina alasan yang bisa ia sampaikan: (i) Usianya masih sangat muda (1 Tim. 4:12) sebagaimana dalam tatanan budaya yahudi belum layak untuk memimpin. (ii) Alasan yang ke dua tentu bisa berkaitan dengan kemampuan yang dimiliki oleh Timotius yang belum maksimal, bahkan dalam hal lahiriah pun Paulus menyinggung Timotius yang belum disunat, sehingga Paulus meminta orang untuk menyunatkan Timotius ( I Timotius 16:3). Kesan yang tersirat dalam sebuah kata perintah menyuruh menyunatkan dia” adalah bahwa Timotius belum pernah melayani sebab Timotius berasal dari seorang ayah dari keturunan Yunani yang secara kultur tidak menjalankan sunat.


    Dua alasan di atas sepertinya kelihatan sangat sederhana, akan tetapi merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh karena pelayanan yang mereka lakukan berada di wilayah orang Yahudi. Hal yang sangat menarik di sini bahwa Timotius tidak mengutarakan alasan-alasan tersebut di atas, dan dia dengan penuh kesediaan untuk ikut di dalam pelayanan bersama-sama dengan Paulus dan Silas.


    Kita tentu saja bisa mengutarakan banyak alasan untuk belum bersedia melaksanakan tanggung jawab pelayanan yang diberikan. Akan tetapi bagian nats ini mau memberikan kita sebuah pengajaran bagaimana kita bersedia melayani Tuhan. Tentu sudah pasti bahwa segala kemampuan melayani yang dimiliki baik oleh Timotius dalam nats ini maupun kita yang hidup di masa sekarang bukanlah dari diri kita sendiri tetapi itu asalnya dari Tuhan. Dan karena itu mari kita dengan penuh kesungguhan hati bersedia melayani Tuhan dengan segala hal yang dipercayakan kepada kita.  


     



    1. 3.    Militansi Dalam Melayani Tuhan (Kis. 16:4-18)


    Tentu kita semua tahu dan sadar benar bahwa perkara melayani Tuhan tidak bisa disamakan dengan perkara/pekerjaan memasak mi instan yang hanya membutuhkan waktu hitungan menit sudah langsung siap saji. Perkara melayani Tuhan adalah tanggung jawab yang membutuhkan proses. Dan uniknya bahwa proses yang kita jalani tidak hanya menyusahkan namun kerap kali diwarnai dengan penolakkan, caci maki, dijauhi, disiksa, dipenjara bahkan terkadang nyawa pun menjadi taruhan.


    Meski demikian rasul-rasul yang hidup dan melayani di abad-abad pertama tidak kemudian merasakan ketakutan dan kegentaran dalam melaksanakan tanggungjawabnya. Segala bentuk siksaan, hinaan, penderitaan bahwa kehilangan nyawa pun seakan – akan bagaikan kobaran api yang terus menyalah-nyalah membakar semangat, memberi dorongan, bahkan energy yang baru untuk terus  menyampaikan Injil Kristus (I Kor. 6:1-10).


    Kenyataan seperti di atas kadang-kadang sangat tidak masuk akal, bahkan oleh mereka yang tidak percaya Injil sering dipandang sebagai sebuah kekonyolan. Namun apakah memang demikian? Jawabannya adalah “Tidak”. Kita tentu sadar bahwa baik hidup dan mati kita adalah milik Tuhan dan hidup kita sepenuhnya, kita kembali untuk mempermuliakan nama Tuhan. Kita juga sadar bahwa Allah tentunya memiliki tujuan ketika Dia menempatkan kita di dunia ini, yaitu agar supaya kita melaksanakan Misi Allah. Misi Allah direalisasikan dalam  pelaksanaan pekabaran Injil.


    Oleh dasar itulah rasul-rasul pada abad – abad pertama dengan penuh keberanian terus-menerus memberitakan Injil Kristus meski diperhadapakan dengan kondisi yang sangat membahayakan. Seyogianya semangat inilah yang harusnya menjadi bagian dari para pelayan Tuhan yang hidup di masa sekarang. Militansi dalam melayani Tuhan tidak boleh disurutkan oleh kondisi apapun.


     



    1. 4.    Menuai Hasil Dari Kesetiaan  (Kis. 16: 17-40)


    Tentu saja hasil akhir dari sejumlah rentetan peristiwa atau kejadian yang dialami dan dikerjakan oleh Paulus dan rekan kerjanya dalam Kisah Para Rasul 15:35-41 dan 16:1-40 adalah mengarah pada sebuah pertobatan Kepala penjara di Filipi. Hal ini tentu merupakan sebuah peristiwa yang sangat spektakuler yang dikerjakan oleh Allah di dalam pribadi Paulus dan Silas, ketika mereka dengan penuh kesetiaan mengabarkan Injil sampai pada akhirnya mereka harus diderah berkali-kali dan dimasukan di dalam penjara, namun mereka tetap dengan sukacita memuji Tuhan (Kis. 16: 23-25). Alhasil dari kesetiaan mereka adalah penjara terbuka dan belenggu semua tahanan terlepas (26) dan akhirnya kepala penjara bersama keluarganya menjadi percaya.


    Hal yang sangat menarik dan menjadi pembelajaran bagi kita adalah kita selalu percaya bahwa Allah yang kita sembah di dalam Yesus Kristus adalah Allah yang SETIA dan kesetianNya akan selalu Dia buktikan dalam segala hal yang kita  alami. Karena itu, percayalah bahwa dalam segala kesulitan yang kita alami, Allah akan setia menolong, memberi kekuatan kepada kita dan yakinlah bahwa Dia sendiri akan menyediakan hasil yang terbaik dari kesetiaan kita.



    1. E.     Penutup  


    Semua hal – hal yang diuraikan dalam poin-poin di atas memberi kita sebuah pengajaran yang sangat berharga dan mulia. Perkara mengikut Tuhan bukanlah sebuah hal tanpa persoalan dan kesulitan, namun percayalah bahwa Kasih Tuhan akan setia menolong kita.  


    Dalam beberapa kesempatan kita akan merasa seakan-akan Allah tidak peduli, Allah tidak setia, bahkan kita bisa saja berkata bahwa Allah tidak ada, namun percayalah bahwa setiap hal yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan kita adalah baik adanya dan Tuhan selalu setia atas janjiNya.


    Karena itu tetaplah setia, tetaplah bersukacita, tetaplah kerjakan tanggungjawab pelayanan yang dipercayakan oleh Tuhan di dalam kehidupan kita, dengan demikian kita akan menerima janji dan kesetiaan Tuhan di dalam kehidupan kita sepanjang waktu, biarlah nama Tuha saja yang dimuliakan dalam setiap hal yang kita kerjakan.   

    Agenda Terbaru
    Statistik Pengunjung
  • Dikunjungi oleh : 24498 user
  • IP address : 54.236.246.85
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
  • Link Terkait
    Berita Akademik

    Kegiatan Seminar Nasional Persekutuan Sekolah - Sekolah Tinggi Setia Arastamar Indonesia (PRESTASI )

    2017-05-04 - 02:50:pm | Kategori Akademik | oleh admin

     Seminar Nasional  yang diselenggarakan oleh Persekutuan Sekolah - Sekolah Tinggi Setia Arastamar Indonesia (PRESTASI )  b.....Baca Selanjutnya

    Sekilas Pemimpin Tradisional Rante Balla

    2015-09-22 - 12:05:pm | Kategori Akademik | oleh direktur
    1. 1.      Asal-usul kepemimpinan tradisional dalam masyarakat Rante Balla<.....Baca Selanjutnya
    Renungan

    Sukacita Dalam Penderitaan Membuahkan Kebaikan

    2019-01-28 - 01:50:am | Kategori Harian | oleh admin

    Pendahuluan

    1. A.    Latar Belakang

    Kitab Kisah.....Baca Selanjutnya

    Materi E-Learning
    Sekolah Tinggi Teologia (STT) STAR'S LUB
    Jl. Sungai Bunta Nomor 4. Kel. Keleke Kec. Luwuk Kab.Banggai, Prov. Sulawei Tengah
    Telp: 085241359597 email : purnama.pasande@gmail.com, sttstarslub.luwuk@gmail.com